“Bom Waktu” di Dunia Pendidikan Pesawaran: Dugaan Skandal Oknum Guru–Dosen Mengendap 7 Tahun, Laporan Masuk Tapi Tak Digubris?

GeloraIndonesiaNews.Com

Pesawaran – Dugaan skandal yang menyeret seorang oknum guru sekaligus dosen di Pesawaran kini berubah menjadi “bom waktu” yang siap meledak kapan saja. Publik mulai mempertanyakan: ada apa di balik diamnya lembaga pendidikan?

Sosok berinisial SR (dikenal sebagai Rifka), yang mengajar di MTs Aulima Nusantara dan tercatat sebagai dosen di STIT Multazam Cabang Pesawaran, disebut-sebut terlibat dalam dugaan hubungan gelap yang berlangsung cukup lama—bahkan dituding sejak tahun 2019 hingga 2026.

Informasi ini diungkap oleh seorang warga bernama Ormayati. Ia menilai persoalan tersebut bukan sekadar isu biasa, melainkan masalah serius yang diduga telah berlarut-larut tanpa penanganan jelas.

“Ini bukan cerita baru. Sudah lama beredar, bahkan dulu sempat ada pengakuan bahwa mereka sudah menikah,” ujarnya.

Namun, fakta yang berkembang di lapangan justru memunculkan tanda tanya baru. Dalam pertemuan langsung, SR disebut menyatakan dirinya belum menikah—kontradiksi yang semakin memicu spekulasi publik.

Ormayati juga mengungkap klaim yang jauh lebih sensitif. Ia menyebut adanya dugaan pengakuan terkait tindakan menggugurkan kandungan yang terjadi lebih dari satu kali. Klaim tersebut belum terverifikasi, namun sudah cukup mengguncang persepsi masyarakat terhadap sosok tenaga pendidik yang seharusnya menjadi panutan.

Tak hanya berhenti pada keluhan, Ormayati mengaku telah melayangkan laporan resmi ke pihak yayasan dan kampus. Namun hingga kini, hasilnya belum terlihat.

“Sudah saya sampaikan secara resmi. Tapi sampai sekarang tidak ada tindakan. Ini yang membuat kami bertanya-tanya,” tegasnya.

Di tengah derasnya sorotan publik, SR masih disebut aktif menjalankan aktivitas mengajar. Kondisi ini memunculkan dugaan adanya sikap pasif atau bahkan pembiaran dari institusi terkait.

Saat dikonfirmasi pada Kamis (30/4/2026), SR hanya memberikan jawaban singkat yang tidak menjawab substansi tudingan.

“Semua salah, biarkan orang mau apa,” ujarnya.

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada pihak kampus, termasuk pendiri STIT Multazam, Dr. H. Pausi, belum mendapatkan respons hingga berita ini diterbitkan.

Pihak MTs Aulima Nusantara sendiri hanya memberikan tanggapan normatif dan menyarankan agar dilakukan pertemuan dengan yayasan.

Situasi ini membuat publik semakin resah. Di satu sisi, dugaan terus bergulir. Di sisi lain, kejelasan dari pihak terkait belum juga muncul.

Jika tidak segera ditangani secara terbuka dan profesional, kasus ini berpotensi menjadi preseden buruk bagi dunia pendidikan di Pesawaran—bahwa isu serius bisa mengendap lama tanpa kepastian.

Kini masyarakat menunggu: akankah ada klarifikasi tegas, atau justru kasus ini akan kembali tenggelam tanpa penyelesaian?

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan